aku tidak pernah memutuskan untuk jatuh cinta pada langit. kebiasaan menengadah itu tumbuh sendiri, sampai suatu hari aku sadar bahwa di atas sanalah tempat paling nyaman untuk menaruh pikiran. bulan tidak pernah tampil dengan wajah yang sama dua malam berturut-turut, dan aku selalu ingin tahu seperti apa rupanya malam ini. bintang menyala dalam diam, dan lewat binokular aku bisa melihat Jupiter ditemani empat bulannya yang kecil. cincin Saturnus yang tipis dan tenang selalu membuatku lupa sedang terburu-buru.
pada malam yang gelap, Bima Sakti terbentang seperti sungai cahaya yang pucat. di sana aku diingatkan bahwa rumahku hanyalah satu titik kecil di dalamnya. kadang sebuah meteor lewat begitu cepat sampai aku belum sempat meminta apa-apa. gerhana pernah membuat siang meredup dan bulan berubah warna menjadi tembaga. setiap fajar dan senja datang dengan warna yang selalu baru, dan aku tidak pernah menemukan dua yang sama.
ada juga hal-hal yang tak bisa dilihat mata, tetapi tetap membuatku kagum. jarak yang harus dihitung dengan perjalanan cahaya, bintang yang sudah lama padam namun sinarnya masih sampai ke mataku, dan galaksi-galaksi yang tak pernah tahu aku ada. entah kenapa semua itu terasa menenangkan. menjadi sangat kecil di tengah sesuatu yang begitu besar ternyata bukan beban, melainkan kelegaan.
aku mencintai langit dan segala isinya: bulan, bintang, planet, dan gelap yang ternyata ramah. aku juga mencintai manusia yang sedang memandangi langit di bawahnya.
ada satu hal yang selalu membuatku diam. cahaya bintang yang singgah di matamu malam ini sudah berangkat bertahun-tahun lalu, kadang ribuan tahun. jadi setiap kali menengadah, kita sedang membaca surat lama yang baru tiba. bulan pun serendah hati itu: ia tidak punya cahaya sendiri, hanya memantulkan matahari, lalu membagikannya pada malam yang gelap.
langit mengajariku bahwa gelap bukan lawan terang. tanpa gelap, bintang tidak punya tempat untuk terlihat. dan bintang pun tidak abadi. ketika bahan bakarnya habis, ia padam atau meledak. tapi dari sisa-sisanya lahir karbon, oksigen, dan besi yang kelak menjadi planet, menjadi bumi, menjadi kita.
besi di darahmu dan kalsium di tulangmu pernah menyala di jantung sebuah bintang. jadi kalau suatu malam kamu merasa kecil, ingatlah: kamu memang kecil, tapi kamu bukan orang asing di sini. kamu ditempa dari bahan yang sama dengan apa yang sedang kamu pandangi.
aku menyukai polaris, bintang utara di rasi ursa minor. ia bukan yang paling terang, tapi hampir tidak pernah bergeser dari tempatnya, sehingga sejak dulu menjadi penunjuk arah bagi para pelaut. dulu aku punya seseorang yang kujadikan polaris. ia tidak pernah berkata apa-apa. ia hanya ada di tempat yang sama, dan di situlah aku belajar bahwa arah tidak selalu datang dari kata-kata.
untuk manusia yang pernah singgah di hidupku: terima kasih. ada yang tinggal lama, ada yang hanya lewat sebentar seperti meteor, tapi semuanya meninggalkan cahaya. bahkan yang sudah jauh pun masih menyala di ingatanku, seperti bintang yang cahayanya baru sampai bertahun-tahun kemudian.
untuk manusia yang akan hadir di kemudian hari: aku belum mengenalmu, tapi aku percaya kamu sedang dalam perjalanan, seperti cahaya yang masih menempuh jarak. semoga kita bertemu di waktu yang tepat, dan semoga kamu juga tahu betapa berharganya dirimu bagi semesta.
aku percaya semesta dan manusia sama-sama bisa retak, lalu pelan-pelan tertata kembali dengan caranya sendiri. dan yang pernah hadir maupun yang akan hadir di hidup ini, sama indahnya.
tentang manusia, langit, semesta, dan polaris, mereka kesukaan yang terus akan menjadi kesukaan selamanya.